KEPEMIMPINAN
Drs. H. Mukhtadi El Harry, MM
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah
Alhamdulillah
Washolatu wassalau ala Rasulillah
Robbisyrohli sodri Wayassirli amri wahlul uqdatan millisani yafqohu qauli, Amma Ba’du
Umat Islam dimanapun berada yang dimulyakan Allah swt.
Mudah-mudahan apa saja yang kita lakukan semata-mata hanya karena
mengharap Ridlo Allah SWT. Sehingga akan bernilai Ibadah, dan ternyata
hanya perbuatan yg bernilai ibadahlah yang akan dibalas oleh Allah swt.
Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan judul Kepemimpinan.
Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat 30
•
Waidz qola robbuka lil mala ikati inni jailun fil aardhi kholifa, qolu
atajalu fiha manyufsidu fiha wayaqsfikuddimaa’a wanaahnu nusabbikhu
bikhamdika wanuqoddisulak qoola aiini a’lamu mala ta’lamun.
Yang artinya kurang lebih demikian
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya
aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Firman Allah ini menunjukan betapa Demokratisnya Allah, meskipun
keputusannya untuk menjadikan manusia dimuka bumi ini saya yakin sudah
dipertimbangkan dengan baik, namun Allah tetap memberitahukan kepada
para Malaikat, dan para Malaikatpun tidak serta merta menerima
keputusan Allah, namun Malaikat sempat mengkritisi keputusan Allah dalam
bentuk mempertanyakan keputusan Allah dan menyampaikan argumentasi
keberatannya, dan Allahpun menerima sikap kritis para Malaikat dengan
sangat bijaksana dalam bentuk Allah menguji kepada Adam dan para
Malaikat, dan setelah terbukti Adam mempunyai kelebihan dibanding
Malaikat ( QS. Al Baqoroh 31), akhirnya para Malaikat mengakui kelebihan
Adam dan tidak ada kata lain kecuali mengatakan Subhanallah (Maha Suci
Engkau Ya Allah) (QS. Al Baqoroh 32).
Dan akhirnya Allah
memerintahkan para Malaikat sujud/ hormat kepada Adam, dan para
Malaikatpun menunjukan jiwa Kesatrianya, mereka bersujud/ hormat kepada
Adam, kecuali Syaithan yang tidak mau bersujud bahkan menunjukan
kesombongannya dengan mengatakan bagaimana mungkin kami harus sujud/
hormat pada Adam, sedangkan kami (Syaithon) lebih mulia disbanding Adam
karena kami dibuat dari api sementara adam dibuat dari tanah.(QS. Al
Baqoroh 34)
Bukti penghormatan Allah kepada Adam, maka Adam
dipersilahkan untuk menghuni sorga dan diberi kebebasan untuk
menikmatinya, kecuali satu hal yaitu dilarang mendekati buah Khuldi.
(QS. Al Baqoroh 35)
Filosofi ini, bahwa tidak ada kebebasan yang tanpa batas, kebebasan pasti ada batasan-batasannya.
Syaithon, melihat hal ini merasa tidak senang, maka dengan berbagai
upaya berusha untuk menggoda Adam, agar Adam diusir dari Sorga, dan
ternyata usaha Syaithon untuk menggoda Adam tidak sia-sia, Adam
melanggar ketentuan Allah (Makan buah Khuldi) dan akhirnya diusirlah
Adam dan Hawa dari Sorga, penghargaan Allah yang begitu tinggi kepada
Adam, tidak seluruhnya di apresiasi dengan sempurna oleh Adam, tetap
saja namanya manusia ada saja kekurangannya,
Adam yang telah dipilih
oleh Allah sebagai Pemimpin, padahal sebelumnya para Malaikat
mengkhawatirkan Adam akan membuat kerusakan dan akan menumpahkan darah
dimuka bumi , namun dibela oleh Allah, dengan pertimbangan Adam
mempunyai kelebihan dibanding Malaikat, meskipun dilain pihak Malaikat
adalah makhluq yang senantiasa bertasbih dan memuji Allah.
Adam/
Manusia telah ditetapkan Allah sebagai pemimpin dimuka bumi, Pemimpin/
Kepemimpinan adalah amanah, setiap amanah konsekwensinya adalah
tanggung jawab sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab 72
“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi
dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan
mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,” (QS. Al
Ahzab, 72)
Namun sayangnya tidak semua yang diberi amanat dapat
mempertanggung jawabkannya, untuk itu kalau kita berani menerima amanat,
kita juga harus berani mempertanggung jawabkannya, baik dihadapan
manusia terlebih lagi dihadapan Allah SWT.
Dan semoga kita semua
termasuk orang-orang yang dapat mengemban amanah. Insya Allah hanya
orang-orang yang dapat mengemban amanah lah yang akan selamat dunia
akhirat.
Demikian semoga Kultum singkat ini bermanfaat bagi kita sekalian.
Billahi taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KEPEMIMPINAN
Bismillah
Alhamdulillah
Washolatu wassalau ala Rasulillah
Robbisyrohli sodri Wayassirli amri wahlul uqdatan millisani yafqohu qauli, Amma Ba’du
Umat Islam dimanapun berada yang dimulyakan Allah swt.
Mudah-mudahan apa saja yang kita lakukan semata-mata hanya karena mengharap Ridlo Allah SWT. Sehingga akan bernilai Ibadah, dan ternyata hanya perbuatan yg bernilai ibadahlah yang akan dibalas oleh Allah swt.
Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan judul Kepemimpinan.
Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat 30
•
Waidz qola robbuka lil mala ikati inni jailun fil aardhi kholifa, qolu atajalu fiha manyufsidu fiha wayaqsfikuddimaa’a wanaahnu nusabbikhu bikhamdika wanuqoddisulak qoola aiini a’lamu mala ta’lamun.
Yang artinya kurang lebih demikian
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Firman Allah ini menunjukan betapa Demokratisnya Allah, meskipun keputusannya untuk menjadikan manusia dimuka bumi ini saya yakin sudah dipertimbangkan dengan baik, namun Allah tetap memberitahukan kepada para Malaikat, dan para Malaikatpun tidak serta merta menerima keputusan Allah, namun Malaikat sempat mengkritisi keputusan Allah dalam bentuk mempertanyakan keputusan Allah dan menyampaikan argumentasi keberatannya, dan Allahpun menerima sikap kritis para Malaikat dengan sangat bijaksana dalam bentuk Allah menguji kepada Adam dan para Malaikat, dan setelah terbukti Adam mempunyai kelebihan dibanding Malaikat ( QS. Al Baqoroh 31), akhirnya para Malaikat mengakui kelebihan Adam dan tidak ada kata lain kecuali mengatakan Subhanallah (Maha Suci Engkau Ya Allah) (QS. Al Baqoroh 32).
Dan akhirnya Allah memerintahkan para Malaikat sujud/ hormat kepada Adam, dan para Malaikatpun menunjukan jiwa Kesatrianya, mereka bersujud/ hormat kepada Adam, kecuali Syaithan yang tidak mau bersujud bahkan menunjukan kesombongannya dengan mengatakan bagaimana mungkin kami harus sujud/ hormat pada Adam, sedangkan kami (Syaithon) lebih mulia disbanding Adam karena kami dibuat dari api sementara adam dibuat dari tanah.(QS. Al Baqoroh 34)
Bukti penghormatan Allah kepada Adam, maka Adam dipersilahkan untuk menghuni sorga dan diberi kebebasan untuk menikmatinya, kecuali satu hal yaitu dilarang mendekati buah Khuldi. (QS. Al Baqoroh 35)
Filosofi ini, bahwa tidak ada kebebasan yang tanpa batas, kebebasan pasti ada batasan-batasannya.
Syaithon, melihat hal ini merasa tidak senang, maka dengan berbagai upaya berusha untuk menggoda Adam, agar Adam diusir dari Sorga, dan ternyata usaha Syaithon untuk menggoda Adam tidak sia-sia, Adam melanggar ketentuan Allah (Makan buah Khuldi) dan akhirnya diusirlah Adam dan Hawa dari Sorga, penghargaan Allah yang begitu tinggi kepada Adam, tidak seluruhnya di apresiasi dengan sempurna oleh Adam, tetap saja namanya manusia ada saja kekurangannya,
Adam yang telah dipilih oleh Allah sebagai Pemimpin, padahal sebelumnya para Malaikat mengkhawatirkan Adam akan membuat kerusakan dan akan menumpahkan darah dimuka bumi , namun dibela oleh Allah, dengan pertimbangan Adam mempunyai kelebihan dibanding Malaikat, meskipun dilain pihak Malaikat adalah makhluq yang senantiasa bertasbih dan memuji Allah.
Adam/ Manusia telah ditetapkan Allah sebagai pemimpin dimuka bumi, Pemimpin/ Kepemimpinan adalah amanah, setiap amanah konsekwensinya adalah tanggung jawab sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab 72
“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,” (QS. Al Ahzab, 72)
Namun sayangnya tidak semua yang diberi amanat dapat mempertanggung jawabkannya, untuk itu kalau kita berani menerima amanat, kita juga harus berani mempertanggung jawabkannya, baik dihadapan manusia terlebih lagi dihadapan Allah SWT.
Dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat mengemban amanah. Insya Allah hanya orang-orang yang dapat mengemban amanah lah yang akan selamat dunia akhirat.
Demikian semoga Kultum singkat ini bermanfaat bagi kita sekalian.
Billahi taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar